Sabtu, 12 April 2014

MENGACUHKAN AL QUR'AN

MENGACUHKAN AL QUR'AN





Mengacuhkan Al Qur'an bisa dilakukan dengan berbagai macam :

1. Tidak mendengarkannya ketika dibaca, tidak mempercayainya dan tidak tunduk patuh kepadanya
2. Tidak melaksanakan ajarannya, tidak menepati apa yang dihalalkan dan diharamkannya, jika dibaca ia tidak mengimaninya
3. Tidak melaksanakan hukum-hukumnya, tidak menetapkan hukum-hukumnya dalam agama dan cabang-cabangnya, berkeyakinan bahwa apa yang diceritakan Al Quran tidak pasti, serta menganggap bahwa bukti-bukti Al Quran hanya berupa bukti lisan tang tidak menghasilkan pengetahuan.
4. Tidak berusaha memikirkan dan memahami apa yang diinginkan oleh Allah dalam Al Quran
5. Tidak mau berobat dengan Al Quran untuk menyembuhkan segala penyakit hati, tetapi justru mencari obat lain dan mengacuhkan Al Quran.

Minggu, 09 Maret 2014

Yaa Bunayya......!!!!!

Yaa Bunayya......!!!!!
Wahai anakku! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”
Wahai anakku! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anakku! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.
Wahai anakku! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.

Sabtu, 01 Maret 2014

UTr


Mencoba menirukan liriknya UJe, sebuah nasyid teruntuk bidadariku ( istriku ) tercinta

Jumat, 28 Februari 2014

TAK MUDAH MENUNDUKKAN HATI WANITA

TAK MUDAH MENUNDUKKAN HATI WANITA




Wanita..... apa yang terbayang jika disebutkan seorang wanita?. Mungkin akan terbayang dibenakmu sosok yang lemah gemulai, santun, lembut, penuh perasaan dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan disini. Anda lebih tahu hal ini daraipada saya. Namun satu hal yang perlu dicermati terutama bagi kaum lelaki bahwa dibalik kelembutan, dibalik lemah gemulainnya dan dibalik kelemahannya menyimnpan hati yang susah untuk ditundukkan.

Dalam ceramahnya seorang ustadz memberikan ilustrasinya bagaimana kehidupan dalam rumah tangga itu. Kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan  penuh keberkahan itu bukan berarti tidak ada masalah dalam keluarga itu. Akan tetapi masalah itu tetap akan ada dan selalu ada namun demikian keluarga itu mampu menyikapi dan menyelesaikan masalah itu secara bijak dan dewasa. 

Suatu hari ustadz tadi mendapat undangan untuk mengisi di salah satu acara pengajian di kampung sebelah. Setelah selesai memberikan taushiahnya ustadz tadi pulang kerumah. Namun di tengah perjalannya beliau sempat berpikir ,"apa ya yang aku bisa bawakan untuk istriku yang dirumah? sejenak setelah berfikir akhirnya beliau membelikan buah jeruk 1 kg lalu jeruk itupun dibawanya pulang kerumah. Sesampainya dirumah betapa bahagianya ketika sang istri membukakan pintu ternyata suami tercintanya membawakan sebungkus plastik yang berisi jeruk. Tapi apa yang terjadi setelah jeruk itu dimakan? hemmm....kok masam (kecut) sich bah? memang tadi abah beli dimana? berapa rupiah satu kilonya ? terus kenapa abah gak milih yang bagus- bagus saja sich?. Begitulah komentar sang istri setelah menikmati buah jeruk yang di bawa suaminya. Yach...itu sich abah beli diwarung sebelah masjid itu, trus satu kilonya sepuluh ribu, dan aku gak bisa milih mi..maafkan abah ya ..? Ya udah....sahut istrinya lain kali kalo beli jeruk yang manis ya bah. Insya Allah mi..

Seminggu berikutnya ustadz tadi mendapat panggilan untuk mengisi diacara pengajian remaja lagi. Seperti hari yang telah berlalu setelah memberikan ceramahnya sang ustadzpun pulang. Namun kali ini beliau membelikan jeruk yang besar-besar, manis, dan dengan harga yang paling mahal di warung buah itu. Belum sampai mengetuk pintu sudah disambut sang istri di ruang depan. Wah....kalo yang abah bawa kali ini pasti lain dengan yang kemaren, betul kan bah? terus berapa harganya yang semacam ini  ? abah beli dimana? berapa satu kilonya? abah pasti milih ya ? begitulah sederetan pertanyaan yang dilontarkan sang istri pada suami tercintanya. Yach...begitulah mi...memang harganya saja beda dengan yang kemaren. eh.....apa bah mang ini lebih mahal ya? pantesan uang abah habis utuk beli buah ini sehingga jatah yang seharusnya diberikan untukku berkurang....

Begitulah kejadiannya, tak mudah memberikan kebahagiaan pada seorang istri, tak mudah memberikan yang terbaik untuk istri dan tak mudah memberikan sesuai dengan kesukaan sang istri. Ternyata dari dua kasus itu bisa ditarik kesimpulan meski sang suami sudah berusaha untuk membuat istrinya senang, bahagia dan puas akan tetapi diluar dugaannya. Semua yang dilakukannya masih tetap dikomen sama istrinya. Bukan hanya sekali tapi sering. Oleh karena itu dengan kasus kejadian semacam tersebut diatas semoga saja kita yang sebagai suami betul betul memahami karakter istri kita, demikian juga sebagi istri bagaimana anda bisa menerima pemberian suami anda.

Wallahu a'lam bishowwab

Rabu, 26 Februari 2014

ANTARA KEKUATAN DAN KENIKMATAN

ANTARA KEKUATAN DAN KENIKMATAN





Barangsiapa diciptakan dengan memiliki kekuatan dan kesiapan untuk melakukan sesuatu, maka kenikmatan yang diperolehnya adalah ketika ia dapat memanfaatkan kekuatan itu.

- Orang yang diciptakan dengan memiliki kekuatan untuk berjima', maka ia akan merasakan nikmat ketika melakukan jima'.
- Orang yang diciptakan dengan kekuatan marah, maka ia akan merasakan nikmat ketika bisa melampiaskan marahnya kepada orang lain.
- Orang yang diciptakan dengan kekuatan makan dan minum, maka ia akan merasakan nikmat manakala makan dan minum yang banyak.
- Orang yang diciptakan dengan kekuatan ilmu dan pengetahuan akan merasakan nikmat ketika menuntut ilmu dan mencari pengetahuan.
- Dan orang yang diciptakan dengan kekuatan cinta kepada Allah, bertaubat kepada Nya, dan bercumbu rayu dengan Nya, maka ia akan merasakan nikmat manakala melakukan aktivitas tersebut.

Semua kenikmatan selain kenikmatan bertaubat dan bercumbu rayu dengan Allah adalah kenikmatan semu yang akan sirna dan bahkan akan berakibat fatal.

Dimanakah posisi anda ?

Minggu, 23 Februari 2014

BELAJAR SAMBIL BERMAIN

BELAJAR SAMBIL BERMAIN

Belajar tidak lah hanya dilakukan di dalam kelas saja, di luar pun ternyata belajar itu sungguh sangat menyenangkan. Selain bisa bermain masih banyak hal yang diperoleh darinya. Apakah itu bentuk kerja sama, saling menghormati, saling menolong, dan harus fokus dengan apa yang sedang kita hadapi saat ini. Pokok e nggak rugi dengan acara semacam ini... 
kalo gak percaya tanya saja pada yang ada dalam foto ini, bagaimana kesannya ???


Persiapan setelah sampai di lokasi......


Belajar untuk bisa rapi, merasa adanya kebersamaan, dan siap untuk melakukan permainan berikutnya


kerapian, kebersamaan akan mewujudkan gerakan yang indah . Saya menyebut permainan ini dengan kursi panjang cz peserta yang berjumlah seratus lebih ternyata bisa duduk bersamaan dengan gerakan seperti itu


Kejar sarung dengan hulahup, peserta berdiri melingkar kemudian kalungkan peserta yang satu dengan hulahup sedang lainnya dengan sarung trus kejar-kejaran searah jarum jam. Mengajarkan ketangkasan dan kecepatan, juga sangat menyenangkan


Blind lead, mengajarkan peserta betapa besar nikmat yang telah diberikan Allah berupa mata. Sebentar mata ditutup akan bisa merasakan ternyata bisa melihat itu nikmat yang luar biasa sedangkan hidup dalam kegelapan itu tak enak. Terlebih tak ada cahaya Islam




Lay mund ( layanan mundur ). mengajarkan peserta untuk bisa kompak dalam bekerja. Tiga peserta, dua menghadap kebelakang satu kedepan dengan membawa gelas yang dikasih air, sementara kaki terikat dan berjalan untuk berlomba mencapai garis finish.



Berdiri diatas balok. Mengajarkan peserta untuk memberi tempat pada peserta yang lain, mengajarkan untuk tidak egois dan menolong orang lain demi keselamatan semuanya.


Mengalirkan kelereng. Mengajarkan peserta untuk fokus pada pekerjaan yang sedang dihadapi, butuh kerjasama untuk meraih tujuannya.


Mengisi pralon dengan air. Mengajarkan untuk kerjasama sekaligus fokus pada pekerjaaannya, sesuai dengan tugas masing-masing. 


Jalan mundur.......Game terakhir sebelum peserta mandi di laut. Lebih menantang karena mata tertutup sementara berjalan kebelakang untuk menceburkan diri kelaut. Waduch....segernya......



Rabu, 19 Februari 2014

MENYIKAPI KRITIKAN DENGAN CERDAS

MENYIKAPI KRITIKAN DENGAN CERDAS




Tak dapat bisa kita hindarkan setiap hari kita sering mendapat kritikan dari porang lain, entah itu karena ucapan kita ataupun perilaku kita. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kritikan itu. Jangan tergese-gesa dan menjawabnya secara reaktif. Bukankah rasulullah telah memberikan panduan pada kita agar tak emosi ketika melayani orang yang sedang marah, layanilah dengan kesabaran.

Ada sebuah kisah yang sangat menarik yang perlu kita ambil pelajaran. Pada abad 18 H bencana hebat melanda wilayah Arabia Utara. Kholifah Umar bin Khottob ra melewati hari-harinya tanpa istirahat dan tak bisa tidur memikirkan cara menanggulangi bencana tersebut. Beliau bersumpah tidak akan menyentuh mentega dan minum susu ( makan enak ) sampai kelaparan berakhir.

Bencana itu disusul dengan wabah sampai mematikan yang menyebar di Syiria. Kholifah Umar ra mengambil untanya dan berangkat ke daerah-daerah itu tanpa pengawalan seperti layaknya pejabat sekarang ini, untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Dalam perjalanan pulang, ada dijumpainya sebuah tenda kecil yang menarik perhatiannya. Kholifah Umar ra melihat seorang wanita tua duduk di depan pintu tenda itu, beliaupun menyapa dan bertanya :" Apakah anda tahu tentang Kholifah Umar bin Khottob? ia menjawab: "Dia sedang dalam perjalanan pulang dari Syiria ke Madinah." Apalagi yang engkau ketahui ?tanya Umar lagi, dengan nada menyelidik."Apalagi yang perlu diketahuai dari orang jahat itu? biarkan dia pergi ke tempat anjing-anjingnya," jawab si wanita tua itu yang tidak mengetahui bahwa yang ada di depannya adalah Kholifah Umar yang sedang diperbincangkan.

"Mengapa begitu wahai ibu?" tanya Umar. ""Mengapa tidak? dia tidak memberi kami apa-apa hingga sekarang ini," jawab si wanita ketus itu.
Tetapi bagaimana dia bisa tahu, segala sesuatu yang terjadi di wilayah yang jauh ini? jika dia tidak tahui kondisi rakyatnya, mengapa dia masih tetap menjabat sebagai kholifah? kritiknya semakin pedas. Kholifah Umar ra terbuka hatinya, dia memberi rasa hormat kepada wanita itu seraya berbisik dalam hatinya, "ibu, engkau telah memberi Umar pelajaran.

Tentu bukan merupakan suatu yang enteng mengurus rakyat yang sedang terkena musibah bertubi-tubi seperti itu. Segala ikhtiar sudah dikerahkan sampai-sampai Umar prihatin dan bertekad dengan tidak akan makan dan minum yang enak sebelum bencana itu berlalu.

Kesungguhan pengorbanan dan kesederhanaan Kholifah Umar sudah banyak dikenak dikalangan rakyatnya, dia pantang bermewah-mewah, makan lezat dijauhi, sebelum yakin betul seluruh rakyatnya hidup berkecukuoan. Tapi bagaimana apresiasi sebagian rakyatnya ? ternyata wanita tua itu justru mengkritik dan mencela di depan Kholifah Umar.

Menyikapi kritik dengan cerdas memang tidalah mudah. Kebanyakan orang memilih bersikap reaktif. seringkali belum sampai tuntas mendengarkan pesan kritiknya, kita sudah tergesa-gesa menimpali. Belum selesai satu kalimat sudah dibalas dengan sepuluh kalimat pembelaan. Apalagi yang mengkritik itu, dipandang lebi rendah levelnya.

Apa sich, yang diketahui wanita itu di padang pasir terhadap pekerjaan pemimpin seperti Umar. Bukankah upaya maksimal te;lah dilakukannnya. Membalas kritikan dengan berbusa-busa atau berbagai dalih, tidaklah menunjukkannbahwa kita lebih baik daripada orang yang mengkritik. Seorang yang reaktif dan membalas kritikan, apalagi membalas dengan lebih pedas lagi, malah menunjukan dia lebih rendah lagi.

Jati diri seorang tergantung datri sikap kita mengahdapi kritikan itu sendiri, daripada pembelaan yang tidak karuan. Rasulullah bersabda dalam sebuah haditsnya :"Tidaklah dikatakan orang yang kuat karena menang dalam bergulat, sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang sanggup menahan dirinya ketika sedang marah."

Andai Umar ra membalas kritikan itu dengan celaan, tentu seketika martabatnya akan jatuh. Maunya ingin menunjukkan diri lebih baik, tapi justru malah terperosok dalam kehinaan. Reaktif mengahadi kritikan bukanlah sikap terhormat. Hal itu bahkan menunjukkan jiwa yang labil dan kerdil. Hawa nafsu dan ego telah mendominasi dirinya. Alih-alih memahami perasaan da hati orang lain atau berbuat empati terhadap orang lain akan lebih baik kan?

Seorang yang reaktif sesungguhnya lemah mengahadi egonya. Ia tidak bisa mengendalikan diri, sehingga tidak ada pilihan lain dalam mengahdapi kritikan itu, kecuali dengan menyerang balik. Sikap demikian mirip dengan logika binatang yang sedang terdesak lari atau menyerang.

Dalam berbagi bentuknya, seorang yang dikuasai egonya, cenderung tiran, kejam, melampaui batas dan seang memaksa. Kritikan akan dipersepsikan dengan ancaman. Oleh karena itu, sikap refleks yang ditunjukkan adalah balikmenyerang. Sikapnya itu justru mematikan potensi spiritualnya, hanya egonya yang ditonjolkan. Kalau dia seorang pemimpin, tidakakan bisa menumbuhkan potensi diri dan rakyatnya secara maksimal. Sikapnya itiu tidak hanya mematikan nuraninya sendiori, tapi juga menyumbat nurani rakyatnya.

Saat kita bersabar, maka bisikan ruhani akan terdengar. Kita dapat bersikap empatik dan memahami yang dirasakan orang lain. Tidak perlu takut hina, mengakui kelemahan dan kesalahan diri. Sikap Umar ra yang mengaku mendapat pelajaran dan masukan dari wanita itu, apakah membuatnya terhiona? Sama sekali tidak. Pengakuannya itu justru menampakkan kebesaran jiwanya.

Wallahu a'lam bishowwab.

Popular Posts

Pengikut